Rabu, 25 November 2015

Pacar Sewaan




Aku melangkah kaku di atas karpet merah. Puluhan orang berbaris di depanku untuk menuju tempat yang sama. Sebuah panggung lumayan megah dengan sepasang ratu dan raja yang tampak berbahagia. Setiap orang yang lewat menyalami tangan mereka dan mengucapkan selamat. Ya, hari ini adalah hari pernikahan Indira, sahabatku. Akhirnya dia menikah juga dengan Bayu, lelaki yang sudah tiga tahun lebih menjadi pacarnya. Tentu saja aku turut berbahagia untuk sahabatku, tapi saat ini perasaanku tak keruan. Aku tak tahu kenapa, tapi mungkin karena lelaki yang berjalan di sebelahku ini.
Aku masih melingkarkan tanganku pada siku Irvan. Sesekali kulirik wajahnya yang sepuluh centi di atas kepalaku. Matanya masih tertuju ke panggung. Sejak tadi ia tampak sangat tenang, tidak seperti aku yang merasa kikuk dan deg-degan. Siapapun yang melihat kami berdua pasti akan mengira bahwa Irvan adalah pacarku. Memang sih dia pacarku, tapi hanya untuk malam ini saja, hanya untuk pesta ini saja.
Keputusan ini kuam
bil dua minggu yang lalu. Kalau bukan demi Indira, aku tidak akan pernah melakukan hal sebodoh ini.
“Gue gak mau tahu!” Indira  nyaris memekik. “Pokoknya, lo harus bawa gandengan pas ke acara nikahan gue nanti!”

Rabu, 24 Desember 2014

Terima Kasih Bunda





Saat fajar memancar
Duniaku masih saja gulita
Kala lampu-lampu kota mulai berpendar
Tak juga binar hinggap di pelupuk mata

Mungkin, dulu hadirku mengundang cela
Alih-alih kecewa
Masih saja aku engkau bela
Pula, kau pelihara aku hingga dewasa

Bunda,
Pandang mataku memang gelap
Tapi sungguh ku bisa rasakan hangat
Saat kedua tanganmu erat mendekap

Aku harus berdamai dengan temaram
Yakinku datang, Saat tangan ini engkau genggam
Bak cahaya benderang
Bimbing aku melangkah menuju terang

Bunda,
Tanpamu aku bukan apa-apa
Tak mampu pula ku balas semua
Namun hari ini, izinkan aku ucap sebuah kata sederhana
Untuk semua yang telah engkau beri dan aku terima
Terima kasih, bunda

***
Depok, 04122014

Sang Jawara





Hai, Jawara
Wajahmu kian berseri penuh makna
Bak sang Raja yang menang perang
Bersenandung riang tentang masa depan

Kau dan gelap adalah sahabat
Namun di hatimu terukir tekad kuat
Yakinmu, ada cahaya di setiap langkah
Yang akan mengubah sang temaram menjadi cerah

Dengan peluh, roda kau kayuh
Letih kutahu
Tapi tak juga kau mengeluh
Meski tak sanggup lagi berdiri
Kau terus saja berlari mengejar mimpi

Sunyi, duniamu tanpa bunyi
Apa yang kau ucap, mereka tak mengerti
Namun tiada lelah kau isyaratkan kata
Dan dunia pun ternganga
Ketika dengan karya kau mampu bicara

Jiwamu, jiwa sang jawara
Kobarkan bara semangat sang juara
Bak petir yang menggelegar
Tegar, kau melangkah tiada gentar

Hai Jawara
Alang rintang yang menghadang
Tak lantas buatmu patah arang
Hujan badai pun engkau terjang
Tembus batas lahirkan sang pemenang
***

Depok, 12112012


*Pernah dibacakan pada event "Hear Artist Hear Ability: Pentas Berbeda Bahagia" di At America, Pacific Place Mall, Jakarta

Asa untuk Indonesia





Aku berdiri di sini
Di hadap mata-mata tak berpendar
Di antara telinga-telinga yang tak mendengar
Di sela roda-roda penopang raga

Wahai garuda
Tidakkah kami ini anakmu juga?
Meski orang bilang kami tak sempurna
Tidakkah kami punya hak yang sama?

Inklusi
Hanya itu yang kami damba di negeri ini
Diskriminasi
Jadikan semua sebatas ilusi

Bukan iba yang kami harap
Hanya sekadar empati dalam bersikap
Bukan lirih yang kami ucap
Beri kesempatan, dan kami akan siap

Kami pemuda Indonesia
Di tangan ini perubahan akan tercipta
Langkahkan kaki dengan berani
Menjadi nadi untuk  mengubah negeri

Kami pemimpin di masa depan
Satukan tangan demi sebuah tujuan
Karena kami pemuda
Dekap erat sebongkah asa
Asa sederhana untuk Indonesia


Depok, 18062012
Ramadhani Ray

Minggu, 26 Januari 2014

The Lunch Reunion: when Women Talking About Pregnancy




Penulis: Tria Barmawi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tanggal terbit: November 2013
Tebal: 272 hlm
Cover: Soft Cover
Harga: Rp. 50.000,-


Tahun demi tahun berlalu. Banyak hal yang telah berubah dalam diri mereka.  Kini Xixi, Tia, Keisha, dan Arimbi telah menikah dan berkeluarga. Meski sudah berpencar tempat kerja, persahabatan mereka terjalin semakin erat.

Perjalanan hidup sering kali tak bisa ditebak.  Xixi yang memiliki karier gemilang, akhirnya beralih profesi menjadi ibu rumah tangga. Sebuah pilihan yang tidak mudah bagi seorang workaholic seperti dia. Namun, toh akhirnya Xixi mengalah pada egonya. Semua ia lakukan demi Arveen- suaminya, Chacha-anak sulungnya, serta Dio-jabang bayi dalam kandungannya.

Tia yang dulu jelita, kini tak peduli lagi soal penampilan. Pakaian lusuh, rambut lepek, kulit menghitam, tubuh pun semakin membesar. Yang paling membuat Keisha gemas dan selalu mengomel, Tia tak pernah berhenti mengunyah. Tiap kali bertemu, pasti Tia sedang makan sesuatu. Menurut Tia, itu pengaruh jabang bayi dalam kandungannya.

Arimbi yang dulu rapuh dan lugu, kini menjelma menjadi perempuan yang dewasa dan  bijaksana memandang hidup. Tak mudah bagi perempuan bertubuh mungil itu untuk meraih impiannya menjadi seorang fashion designer seperti sekarang. Mungkin tantangan-tantangan itulah yang membuat Arimbi semakin kuat dan terus berpikir positif, meski Tuhan belum juga memberikan keturunan yang begitu ia dambakan.

Keisha yang biasanya tampak kuat dan tegar, uring-uringan hanya karena tak siap menjalani kehamilannya. Sahabat-sahabatnya pun hamper hilang kesabaran menghadapi Keisha yang selalu mengeluhkan tubuhnya yang semakin gemuk. Keluhan dan ketakutan yang berlebihan itulah yang membuat mereka akhirnya menyadari, ada sesuatu yang Keisha sembunyikan. Sebuah trauma di masa lalu yang belum bisa ia lupakan hingga sekarang.

Mereka berkumpul saat jam makan siang dan saling berbagi kisah. Mereka jalani semua itu berempat hingga takdir mempertemukan mereka kembali dengan Vinka.-sahabat lama yang sempat menghilang. Ternyata Vinka kini satu kantor dengan Paul, suami Keisha. Keempat sahabat itu penasaran, seperti apa pribadi Vinka sekarang? Ada rasa rindu untuk meraih Vinka kembali dalam lingkaran persahabatan yang sempat terjalin begitu erat bertahun silam.

***

The Lunch Reunion merupakan lanjutan dari novel Tria Barmawi yang sebelumnya- The Lunch Gossip. Jika pada buku sebelumnya cerita sangat kental dengan dunia perkantoran, maka The Lunch Reunion mengisahkan kehidupan para ibu muda dan keluarga yang baru dibangun. Lebih spesifik lagi, novel ini banyak bercerita tentang kehamilan. Banyak pengetahuan dan tips yang bisa jadi pelajaran bagi perempuan yang sedang mengandung tersisip di sepanjang alur cerita.

Konfliknya gak ada yang klimaks sih, tapi cara sang penulis merangkai adegan demi adegan bikin The Lunch Reunion tetap asyik untuk dibaca. Namun, ada satu hal yang agak kusayangkan. Penulis mengkondisikan tiga tokoh utama-Xixi, Tia, dan Keisha- dalam keadaan hamil. Sedangkan satu tokoh lainnya-Arimbi, pun sedang gelisah karena tak kunjung hamil. Walhasil, cerita jadi terasa kurang natural karena semua tokoh utama selalu saja bicara tentang kehamilan.


Dari segi penokohan, menurutku, keberadaan tokoh Mega dan Arin terasa mubazir. Ada atau tidak adanya kedua tokoh itu pun gak berpengaruh dengan jalannya cerita.  Selain itu, karakter para suami-Arveen, Rimba, Paul, dan Fariz- seolah memiliki karakter yang seragam. Semua adalah suami idaman wanita yang perhatian serta sering kali mengungkapkan cintanya lewat kecupan atau sentuhan. Padahal gak semua laki-laki bisa mengungkapkan rasa cintanya dengan cara seperti itu. Kalau saja karakter para suami juga berwarna-warni-ada yang terlalu cuek  atau mungkin melarang istri mereka kumpul-kumpul. Ini akan jadi tantangan lain buat persahabatan mereka. Dengan begitu, konflik pun lebih variatif, gak melulu bicara soal kehamilan.

But, its okay. Buatku beberapa kekurangan itu bukan masalah. Toh, kepiawaian sang penulis merangkai kata dan merajut cerita pada akhirnya berhasil “menghipnotis” aku untuk terus membaca cerita ini hingga halaman terakhir. Gimana gak, The Lunch Reunion masih punya segudang nilai plus yang bikin novel ini layak jadi pilihan pembaca.

Yang pertama, aku suka dengan cara penulis menggambarkan situasi serta menciptakan percakapan antaar tokoh. Aku jadi bisa merasakan betapa akrabnya hubungan persahabatan keempat tokoh utama. Beberapa kali aku tergelak membaca deskripsi adegan santai yang dibuat penulis. Contohnya yang ini:

… Dan ya ampun, sekarang mereka   saling mengelus perut. Apa yang mereka lakukan? Berkenalan dengan jabang bayi dalam perut masing-masing? 
”Pasukan tambun sekarang lagi banding-bandingin  ukuran perut.” Aku mencolek Arimbi. ”Tolong deh, gue  pusing liatnya!”  (hal. 42)

Untuk kedua kalinya aku baca novel karya Tria Barmawi, dan untuk kedua kalinya pula aku tercengang dengan ending ceritanya. Salut banget buat Tria yang berhasil menata alur cerita dengan begitu cantik dengan tuturan kalimat yang asyik buat dibaca. Aku sama sekali gak berpikir, bahwa cerita akan berakhir dengan kematian tokoh Tia. Memang, pada beberapa bab terakhir sudah terlihat bahwa Tia punya masalah dengan kehamilannya. Tapi aku sama sakali gak berpikir bahwa Tia bakal meninggal hingga aku menemukan percakapan para tokoh yang membicarakan Tia pasca kelahiran Edel, anak Keisha. Sang penulis benar-benar berhasil mengalihkan perhatianku dari tokoh Tia. Berbagai adegan menyenangkan disisipkan pasca masuknya Tia ke rumah sakit untuk dirawat- pertemuan kembali dengan Vinka, Arimbi dan suaminya yang memutuskan untuk tetap berusaha mendapatkan momongan, Xixi yang melahirkan anak keduanya, serta Keisha yang akhirnya memutuskan untuk melupakan dendamnya pada ayah kandungnya. Gara-gara adegan-adegan membahagiakan itu, aku jadi lupa pada salah satu tokoh yang ternyata tengah menghadapi masa kritis. Perfect. Empat jempol buat penulisnya untuk bagian ini.


”Kamu betul banget. Sekecil apa pun kita rasakan sebuah nikmat, memang layak banget kita bersyukur. Bisa jadi yang kita rasa kecil itu sebenarnya besar, atau pintu untuk ke arah yang lebih besar lagi. Ya, kan?”  (hal. 153)

”..  Aku cuma merasa sayang sekali kalau Vinka membuang potensi kebahagiaan  yang begitu dekat. Vinka tahu, aku belajar  banyak justru ketika aku nggak gampang mendapatkan  apa  yang aku mau. Tapi aku nggak nyerah, Vin.”  (hal. 182)

”Apa kamu nggak berpikir, mungkin aja kan Mami   dibuat harus berpisah dengan Papi kamu karena Tuhan   mau kasih Mami kebahagiaan yang lebih besar?”  (hal. 191)


Inilah beberapa pesan moral yang aku temukan dalam percakapan antar tokoh The Lunch Reunion. Pesan-pesan itu mengingatkan kita untuk berpikir realistis, tapi tetap bijak menghadapi hidup. Love it. That’s why, aku kasih satu lagi poin plus buat novel satu ini.

Okay, mungkin itu sejumlah poin yang bisa aku review dari novel ini. Jelas, aku rekomendasikan The Lunch Reunion untuk para pencinta cerita drama kehidupan, khususnya cewek-cewek yang baru nikah dan lagi hamil, para ibu muda, cewek yang berhenti kerja karena mesti mengabdi pada suami dan anak-anak, serta kalian yang baru membangun keluarga. Pasti kalian bakal bilang kalo nih novel “Gue banget”.
***
Depok, 24012014